Skip to main content

Analisis Psikologis Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Manajer HRD di Apartemen Kalibata City

Masalah kejahatan memang selalu menuntut perhatian yang serius dari waktu ke waktu. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dalam buku kedua sudah mengatur tentang kejahatan. Suatu perbuatan itu dikatakan kejahatan apabila melanggar ketentuan dalam buku kedua Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pada kenyataannya tidak semua kejahatan dilakukan oleh orang yang jiwanya normal. Perkembangannya di Indonesia, muncul beberapa kasus pidana yang dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa. Berat atau tidaknya suatu gangguan jiwa merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam proses persidangan yaitu untuk menentukan mengenai apakah pelaku dapat dimintakan pertanggungjawaban atau tidak.


Seperti halnya dalam Kasus Pembunhan dan Mutilasi yang dilakukan oleh sepasang suami istri di apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Yang mengakibatkan tewasnya seorang manajer HRD PT Jaya Obayashi. Maka dari itu penulis sangat tertarik menganalisis kasus tersebut untuk mengetahui lebih dalam mengenai bagaimana hukum menangani dan mengatur suatu tindak pidana yang pelakunya mengalami gangguan jiwa atau tidak dengan judul “Analisis Psikologis Tersangka Dalam Kasus Pidana Pembunuhan dan Mutilasi Manajer HRD di Apartemen Kalibata City”.

Analisis Psikologis Tersangka Dalam Kasus Pidana Pembunuhan dan Mutilasi Manajer HRD di Apartemen Kalibata City


A. Kronologi Kasus Pembunuhan dan Mutilasi yang dilakukan oleh sepasang suami istri di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan

Dilansir oleh Tribunnews.com Bahwa polisi telah menangkap dua tersangka pelaku kasus pembunuhan disertai mutilasi terhadap seorang pria yang jenazahnya ditemukan di dalam koper di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Korban pembunuhan disertai mutilasi tersebut bernama Rinaldi Harley Wismanu (33)  yang merupakan seorang Manajer HRD PT Jaya Obayashi. Ia tewas dibunuh dan dimutilasi oleh sepasang kekasih yang berinisial DAF alias Djumadil Al Fajri (26) dan LAS alias Laeli Atik Supriyatin (27). Kepada polisi, keduanya mengaku menghabisi korban karena alasan ekonomi. Keduanya bersekongkol menghabisi Rinaldi untuk menguasai hartanya. 

Kronologi pembunuhan dan mutilasi terhadap Manajer HRD PT Jaya Obayashi, Rinaldi Harley Wismanu tersebut bermula  saat korban mengenal Laeli dari sebuah aplikasi kencan online, yaitu Tinder. Setelah melakukan komunikasi daring, keduanya sepakat bertemu di apartemen itu. Kedua tersangka sebelumnya telah menyewa apartemen selama 6 hari, dari 7 hingga 12 september 2020.
Tanpa diketahui oleh korban kedua tersangka merencanakan pemerasan dan pembunuhan di kamar kostnya di Depok, Jawa Barat. Rencananya korban akan dijebak secara seksual oleh pelaku. Selanjutnya kedua pelaku memesan kamar Apartemen Pasar Baru Mansion melalui aplikasi reddoorz. Lalu Rinaldi sebagai korban dan pelaku LAS bertemu di Kopi Kenangan di Stasiun Juanda, Jakarta Pusat, 9 September 2020, sekitar pukul 19.30 malam, tersangka Laeli dan korban menuju ke dalam kamar Apartemen Pasar Baru Mansion.

Saat Rinaldi dan Laeli masuk ke apartemen tersebut pada 9 September 2020, tersangka Fajri ternyata sudah berada di dalam dan bersembunyi di kamar mandi. tersangka DAF menunggu di dalam kamar mandi dengan menyiapkan batu bata dan gunting.

Tersangka LAS dan korban langsung melakukan hubungan badan di atas kasur. Saat itu Posisi korban ada di atas tersangka LAS. Hadapnya belakangin kamar mandi. Sementara DAF masih di dalam kamar mandi. Selanjutnya tersangka DAF alias Fajri, keluar dari kamar mandi tanpa sepengetahuan korban, dan melihat korban sedang berhubungan badan dengan Laeli. Lalu  tersangka Fajri memukul korban pada bagian kepala dengan batu bata hingga terkapar dan setelah itu langsung menindih dada korban. 
Sementara Laeli berlari ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi. Fajri memeras korban karena telah meniduri Laeli yang disebutnya istri, fajri meminta sejumlah uang ke korban namun korban menolak memberikan uang, karenanya DAF memukul pelipis kiri korban dengan batu bata, tersangka DAF menusuk korban dengan gunting di bagian kepala sebanyak 1 kali korban sempat berusaha melarikan diri dengan cara memberontak dari tindihan Fajri dan korban sempat hendak berlari ke arah pintu keluar kamar. Namun, Fajri kembali menusukkan guntingnya ke arah pinggang sebelah kiri korban, korban ditarik dan ditengkurapkan lagi oleh tersangka DAF ke tempat tidur.

Tersangka LAS, keluar dari kamar mandi, dalam posisi korban ditindih DAF, LAS menanyakan PIN HP korban saat itu satu tangannya korban di piting menggunakan kaki dan satu tangan lagi di pegang oleh DAF.  Karna korban sempat tidak mau memberikan kode PIN HP-nya kepada kedua tersangka, karenanya tersangka DAF semakin ganas menusukan gunting ke tubuh korban beberapa kali, tersangka LAS kembali menanyakan pin HP ke korban sebanyak dua kali pada permintaan kedua, korban akhirnya memberikan pin kode HP-nya karena berharap pelaku tidak lagi menusuknya. Namun tak lama korban tak sadarkan diri dan akhirnya meninggal dunia. Kedua tersangka menutup muka korban dengan baju karena berlumuran darah, kaki korban juga diikat tali rafia oleh tersangka DAF dan memindahkan jenazahnya ke dalam kamar mandi.

Setelahnya tersangka kemudian keluar untuk membeli peralatan mutilasi ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Setelah itu korban ditinggal tiga hari di dalam kamar, sampai 11 September. Lalu pelaku mulai memutilasi korban pada 12 September dini hari. Di mana tersangka DAF memutilasi kaki kiri dan kanan, pemutilasian dilakukan di bagian lutut kiri dan kanan, menggunakan pisau daging tersangka Laeli menguasai harta milik korban karena sudah mengetahui nomor passwod telepon korban. Di dalam HP tersebut ada beberapa catatan penting korban seperti pin ATM dan lainny, uang korban sempat diambil Laeli di Indomaret Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Setelah mengambil uang, kedua tersangka pergi ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan untuk membeli pisau pemotong daging. Dari Pasar Minggu keduanya ke Mal Graha Cijantung, Jakarta Timur untuk membeli perhiasan emas, menggunakan uang korban. Pada hari Jum’at 11 September mereka memesan kamar di Tower Ebony, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan lantai 16 kamar 16 AB. Keduanya membawa koper dan tas berisikan bagian tubuh korban ke kamar aparteman Kalibata City menggunakan taksi online, di mana koper warna merah muda, disimpan di bagian luar di balkon. Kedua tersangka membeli beberapa perlengkapan lagi untuk mutilasi termasuk gergaji besi juga membeli cat pilox putih dan cat lainnya untuk menutupi bercak darah di tembok kamar apartemen. Tersangka membeli koper hitam di Pasar Senen, Jakarta Pusat untuk bagian potongan tubuh korban setelah itu, membeli sepeda motor N-Max seharga Rp 20 juta menggunakan uang korban. Tersangka membawa satu koper lagi yang berisikan potongan tubuh korban ke Apartemen Kalibata City.


Selanjutnya pelaku ke Pasar Jatinegara untuk membeli bed cover, dan sarung bantal untuk mengganti yang ada di apartemen kamar karena sudah penuh darah, ransel dan koper yang berisikan potongan tubuh korban ditaburkan kopi. Lalu kedua tersangka ke toko bangunan di Tapos Depok, membeli skop, pacul, ember semen, semen 1 sak, dan sendok semen untuk menguburkan korban. Kedua tersangka sudah menyiapkan sebuah lubang dengan menggunakan cangkul di rumah kontrakan di Perumahan Permata Cimanggis, Tapos, Depok, yang sehari sebelumnya mereka sewa. Lubang kuburan disiapkan di belakang rumah. 

Kedua Pelaku pembunuhan dan mutilasi, Djumadil Al Fajri alias DAF dan Laeli Atik Supriyatin alias LAS ditangkap polisi di rumah kontrakan mereka di Perumahan Permata Cimanggis, RT 2 RW 20, Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Kota Depok pada Rabu, 16 September 2020 lalu. Saat dibekuk, pasangan suami istri itu sempat mencoba kabur dari belakang rumah dan naik ke genteng rumah tetangganya. Namun, karena rumah mereka sudah dikepung petugas, upaya mereka gagal. Keduanya tampak pasrah saat ditangkap. 

Kasus ini terkuak setelah Polda Metro Jaya menerima laporan keluarga soal hilangnya korban. Keluarga kehilangan kontak dengan Rinaldi Harley Wismanu sejak Rabu 9 September 2020. Keluarga korban kemudian melaporkan kasus hilangnya korban ke Polda Metro Jaya pada Sabtu 12 September 2020.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengungkap tersangka kasus mutilasi Kalibata City, Laeli Atik, merupakan seseorang yang berprestasi secara akademik. 

Selain pernah berkuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia atau FMIPA UI, pelaku ternyata pernah mengikuti Olimpiade Kimia tingkat provinsi. Setelah lulus dari kampusnya, Yusri mengatakan pelaku bekerja di sebuah perusahaan farmasi besar. Namun sejak pandemi Covid-19, ia dipecat dan menjadi pengangguran. Sementara Djumadil Al Fajri, kekasih dan rekan Laeli dalam pembunuhan, berprofesi sebagai tukang ojek. Jadi memang motif pembunuhan berencana karena ekonomi. 

Polisi menjerat kedua tersangka dengan Pasal 340 dan Pasal 338 dan 365 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Keduanya terancam dihukum maksimal dengan pidana mati atau penjara seumur hidup. 

B. Analisis Psikologis Kasus Pembunuhan dan Mutilasi yang dilakukan oelh sepasang suami istri di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan

Sesuai dengan kronologi kejadian yang telah dipaparkan di atas, kita bisa mengetahui bahwasannya pelaku telah membunuh dan memutilasi korban yang bernama Rinaldi Harley Wismanu dengan menggunakan sejumlah senjata tajam berupa batu bata dan gunting, pisau pemotong daging dan gergaji besi dapat dikategorikan sebagai pembunuhan Tindak Pidana Pembunuhan Yang Mengincar Nyawa. 

Kasus pembunuhan mutilasi yang terjadi di Kalibata City sampai saat ini masih terus didalami oleh pihak kepolisian. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisari Besar Polisi Yusri Yunus alasan kedua pelaku melakukan aksi keji itu yakni karena kelaparan.Kepada Polisi, mereka mengaku sempat tidak bisa membeli makanan sebelum melakukan aksi pembunuhan terhadap korban, RHW. Mereka mengaku sudah beberapa hari tidak makan, sehingga timbul niatan untuk melakukan pemerasan. sebelum berniat melakukan pemerasan disertai pembunuhan terhadap RHW, pelaku LAS memperoleh penghasilan dari memberikan les kimia untuk mahasiswa. Sedangkan DAF merupakan pengangguram yang bergantung hidup pada LAS. 

Namun, sejak pandemi Covid-19 yang terjadi hampir di seluruh negara dunia termasuk Indonesia, LAS tak bisa memungkiri bahwa dia harus kehilangan pekerjaannya. Alhasil, LAS tak lagi memiliki penghasilan. Di sisi lain, kehidupan harus terus berjalan bagi kedua sejoli ini. Selain harus memenuhi kebutuhan hidup, pasangan kekasih itu juga terdesak harus membayar tempat tinggalnya yang merupakan sebuah kos-kosan. Jadi faktor ekonomi yang kemudian mendesak mereka. 
Sebagaimana diketahui, polisi mengungkap kasus pembunuhan dengan cara memutilasi korban yang dilakukan dua sejoli, LAS dan DAF. Pembunuhan itu dilakukan, guna melakukan perampokan terhadap korban. Terbukti, pelaku berhasil menggasak rekening korban sebesar Rp97 juta. Kepada polisi, para pelaku mengaku merampok untuk kebutuhan ekonomi karena baru dipecat dari pekerjaannya akibat Pandemi Covid-19.Akan tetapi keterangan mereka, dinilai tak masuk akal jika melihat cara pelaku menghabiskan nyawa korban. 

Sejoli Djumadil Al Fajri (DAF) dan Laeli Atik Supriyatin (LAS) bisa jadi mengalami gangguan kepribadian. Karena biasanya, orang yang mengalami kelainan kejiwaan dipengaruhi riwayat masa kecil yang kurang baik, seperti sering melihat kekerasan, biasa dipukul, dimaki-maki, seseorang dapat melakukan perbuatan keji dan sadis karena latar belakang kehidupann mereka yang keras Hal itu pula yang kemudian mendorong karakter tersebut melakukan tindak kekerasan. Dalam psikologi biasa disebut sosiopsikopat atau disebut juga psikopat, bisa jadi LAS dan DAF memiliki tendensi gangguan kepribadian. 

Hal ini hanya dugaannya yang bersifat sementara, Sebab, kepastiannya tentu menunggu hasil pemeriksaan psikolog terhadap kejiwaan LAS dan DAF. bahwa orang awam tentu sulit mengidentifikasi kedua tersangka pembunuhan itu sebagai psikopat. Sebab, kedua pelaku tersebut seperti orang normal pada umumnya. Merujuk pemberitaan media,  memang perbuatan LAS dan DAF didasari motif ekonomi. Namun, jiwa psikopatlebih cenderung memiliki kecerdasan yang baik. Orang psikopat itu ada di sekitar kita. Jadi jiwa seorang  psikopat itu merupakan orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.

Jelas diketahui dari kronologi diatas, DAF dan LAS mengnhabisi korbannya di Apartemen Pasar Baru Mansion, Jakarta Pusat pada 9 September lalu. Atas ide DAF, LAS merayu korbannya agar mau berhubungan badan, dan pada Saat tengah bercumbu, DAS muncul dari dalam kamar mandi dan langsung menghantam kepala korbannya dengan batu bata yang sudah disiapkan dan selanjutnya, DAF dan LAS menusuk korban beberapa kali, Setelah korban dipastikan tak bernyawa, keduanya memotong-motong tubuh korbannya menjadi 11 bagian. Bagian tubuh korban itu lalu dimasukkan ke dalam tas kresek dan koper. Selanjutnya, potongan tubuh korban itu dibawa dan disimpan di Apartemen Kalibata City.

Terbaru, polisi menyatakan, saat memotong-motong tubuh korban, DAF dalam kondisi tenang dan sadar. Karena itu, sudah cukup jelas terlihat bahwa tersangka sepertinya sudah cukup berpengalaman melakukan perbautan tersebut tanpa adanya rasa takut akan hal apapun dilihat dari bagaimana tenang nya kedua pelaku saat memotong – motong bagian tubuh korban. 
Karena perbuatan ini kedua korban dapat dijatuhi hukuman Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat Pasal 340 KUHP jo Pasal 338 KUHP jo Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman mati.
Berikut Undang-Undang yang dapat menjerat Djumadil Al Fajri alias DAF dan Laeli Atik Supriyatin alias LAS sebagai tersangka pelaku pembunuhan dan mutilasi beserta hukuman pelanggarannya yakni KUH Pidana :

1. Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tentang Pembunuhan berencana, yakni berbunyi: 
“ Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun."


2. Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tentang Pembunuhan Biasa, yakni berbunyi:
“ Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain. Diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.”

3. Pasal 365 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tentang Pasal Pencurian dengan Kekerasan sebagai Pemberatan dari Pasal Pencurian Biasa, yakni berbunyi:

1) Diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri. 

2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun:

a) Jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada dirumahnya, dijalan umum, atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan;
b) Jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
c) Jika masuk ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu;
d) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat.

3) Jika perbuatan mengakibatkan kematian, maa diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

4) Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan lika berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no 1 dan 3. 

Simpulan

Penegakan hukum merupakan tidak hanya kewajiban aparat penegak hukum, melainkan kewajiban seluruh elemen masyarakat. Setiap warga harus memiliki kontribusi dalam penegakan hukum sehingga tercipta kondisi adil, tertib dan damai. Psikologi sebagai suatu disiplin ilmu tentang perilaku manusia berusaha untuk berkontribusi dalam penegakan hukum dalam bentuk memberikan pengetahuan dan intervensi psikologis yang berguna dalam proses penegakan hukum. peran psikologi dapat dimulai dari pencegahan, penanganan, pemindanaan dan pemenjaraan. Indikator penegakan hukum yang baik dalam perspektif psikologi adalah adanya perubahan perilaku pelaku pidana ke arah yang lebih baik, artinya pelaku pidana tidak melakukan perbuatan melanggar hukum. 

Terkait mengenai kondisi Psikologi kedua tersangka masih lebih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut mengenai jiwa psikopat yang dimiliki kedua tersangka. 
Berdasarkan pada kasus diatas sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kasus tersebut dapat dikenakan Pasal 340 KUHP merupakan pembunuhan yang paling berat ancaman pidananya dari seluruh bentuk kejahatan terhadap nyawa manusia, terlebih juga ditambah dengan melakukan mutilasi terhadap korban untuk menghilangkan jejak, dan juga tindakan pencurian dengan kekerasan  tentu saja pemidanaan yang dijatuhi  merupakan pasal berlapis 340 KUHP, 338 KUHP dan 365 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup

Lebih berat ancaman pidana pada pembunuhan berencana. Penerapan hukuman mati Pasal 340 KUHP terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan berencana yang berkapasitas sangat serius dan dilakukan dengan kejam, sadis dan betul-betul melanggar nilai-nilai tertinggi kemanusiaan. Hal ini terbukti bahwa terdakwa LAS bersama dengan suaminya DAF sebagai fakta telah menunjukkan adanya satu orang lebih melakukan perbuatan kepada korban Renaldi, secara bersama-sama (mede dader) sehingga terhadap unsur ini sudah jelas bahwa telah terpenuhi. Perbuatan para terdakwa memang benar telah terpenuhi dan terbukti menurut hukum. Berdasarkan alat-alat bukti yang sah yang terungkap dipersidangan juga semakin membuktikan terdakwa memenuhi semua unsur-unsur pidana. 

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar